Miracles Still Happen? Yes, I do believe it!

Mujijat masih terjadi? Ya, tentu saja! Saya masih sangat yakin masih ada mujijat bagi mereka yang mempercayainya. Ada satu peristiwa terakhir yang membuat saya semakin yakin kalau mujijat masih terjadi sampai dengan hari ini. Saya, ketiga anak saya, kakeknya anak-anak saya, dan asisten rumah tangga yang ikut selamat dari kecelakaan mobil di jalan Tol menuju Porong, dalam perjalanan ke Hotel Surya, Tretes!

Sudah lama saya tidak menulis di blog, tetapi dorongan untuk menulis tentang peristiwa ini sangat besar. Saya ingin sekali membagikan pengalaman yang sampai saat ini membuat saya merinding jika membayangkannya. Jika bukan Tuhan yang menyelamatkan, barangkali saat ini saya tidak berada di sini dan tidak bisa berkisah ini. Ya, suatu keajaiban untuk saya.

Kejadian ini terjadi hari Minggu, tanggal 26 Oktober 2014, saat kami perjalanan ke Hotel Surya, Tretes. Rencana semula saya dan keluarga (suami dan ketiga anak kami) bermalam di sana, Sabtu-Minggu, 25-26 Oktober 2014. Akan tetapi oleh karena satu dan lain hal rencana ini batal. Suami berangkat terlebih dahulu, karena memang ada urusan kerja. Kemudian saya dan anak-anak menyusul keesokan harinya.

Bersama dengan papa saya (kakeknya anak-anak), Minggu pagi sekitar pukul 6.45 kami berangkat. Jalanan nampak lenggang, mungkin karena hari Minggu pagi, mungkin juga karena sudah banyak yang berada di luar kota (karena Sabtu kemarin tanggal merah). Mobil kami melaju dengan kecepatan sedang saat di jalan kota. Kami memutuskan untuk lewat jalan tol, masuk dari Bundaran Waru (perbatasan Surabaya-Sidoarjo).

Setelah masuk tol, kecepatan mobilpun otomatis bertambah dengan sendirinya, hehehe.
Mobil kami melaju kencang, hingga 120 km/jam. Saya merasakan ada yang aneh dengan mobil kami ketika mobil beberapa kali melaju dengan kencang (di atas 100 km/jam), bagian belakang kiri ada bunyi yang berbeda dengan bunyi yang biasanya. Biasanya mobil saya sedikit bunyi jika melaju atau saat belokan karena baut jok paling belakang ada yang longgar. Saya sempat mengamati, bunyi-bunyian tersebut keluar ketika kecepatan mobil di atas 90 km/jam. Aneh, tidak seperti bunyi biasanya, bunyi yang ini lebih keras.

Oleh karena bunyinya yang konstan, kami (saya dan kakeknya anak-anak) penasaran dengan bunyi tersebut, maka saya diminta test dan pindah ke jok mobil paling belakang saat mobil masih melaju dengan kencang (sekitar 120 km/jam). Setelah saya pindah ke jok bagian belakang, mobil bagian belakang tetap berbunyi. Saya langsung merasa tidak enak, demikian pula dengan kakeknya anak-anak.
“Pa minggir aja Pa, kok tetap bunyi ya”
Tanpa berucap apapun (biasanya pasti diskusi) papa segera menurunkan kecepatan, pasang lampu tanda belok kiri, segera mengambil jalur kiri. Setelah itu, membantingkan setir ke jalan berpasir –bukan yang badan jalan atau lajur paling kiri. Dan mobil behenti di kilometer ke 31. Bersamaan dengan berhentinya mobil, saya melihat satu roda ban meluncur sendiri, sekitar dua meter menjauhi mobil kami ke arah kiri. Ya, ban bagian belakang kiri mobil kami lepas! 😮

Saking tidak percayanya saya bahwa itu adalah salah satu ban mobil (dari empat ban) yang terpasang, terlebih lagi kami yang berada di dalam mobil tidak merasakan bahwa mobil kami turun miring ke arah kiri sekitar 30 cm, sampai saya bilang ke kakeknya anak-anak
“Ban serep nya lepas kali Pa”
Bayangan saya itu adalah ban serep yang terlepas dari tempatnya (di bagian bawah-belakang mobil).
Ternyata bukan!! 😮

Ya, itu adalah ban bagian kiri yang seharusnya terpasang! Terlepas begitu saja karena velg bannya patah –tah, tah, tah! Jadi roda bisa terlepas dari kunci as nya!
Wow! Just in time!
Tidak bisa kami bayangkan jika velg roda (ban) itu patah –tah, tah, tah– dan terlepas ketika kami melaju dengan kecepatan tinggi, 120 km/jam tadi! Apa jadinya kami yang ada di dalam mobil?? Mungkin mobil akan terbanting, terplanting, terguling… Kemudian ditabrak mobil-mobil atau truk-truk yang melaju kencang di belakang mobil kami… Mungkin juga kami tidak akan bertemu dengan papanya anak-anak lagi… Arghhhh serem banget bayanginnya! (>__<)
Saya bergetar, tertegun, mengucap syukur tak henti-hentinya bahwa kami boleh mengalami (satu lagi) mujijatNya sehingga kami masih hidup, lengkap, tidak kurang satu apa pun. Bahkan mobil kami tidak mengalami kerusakan berarti akibat patahnya velg ban mobil kami tersebut. Wow! AMAZING!! Kalau bukan Tuhan yang bekerja tidak mungkin kami selamat! Thanks GOD!! Thanks buat kesempatan melihat dan merasakan kebesaranMu (sekali lagi) dalam hidupku dan keluargaku. (^_^)

—–

KAU S’LALU AJAIB BAGIKU
JALAN-MU TAK TERSELAMI
SAAT KAU YANG MEMBUKA PINTU
TAK ADA YANG MENUTUPNYA

MASIH ADA JALAN TERBUKA UNTUKKU
MASIH ADA JALANNYA TUHAN
MASIH ADA JALAN TERBUKA UNTUKKU
KU LIHAT KEBESARAN-MU

Songwriter : Freddy Sembiring, Alberd Tanoni

Singer: Angel Pieters

https://www.youtube.com/watch?v=97-FUhgGYyE
——–
Ending ceritanya, kakeknya anak-anak berhasil memperbaiki –“hanya” mengganti roda yang rusak dengan roda cadangan dengan alat seadanya– dan melanjutkan perjalanan ke Hotel Surya Tretes dan tiba di sana sekitar jam 9! Mundur 1 jam dari jadwal tetapi perjalanan kami luar biasa! Sekali lagi, thanks God! \(^_^)/

Advertisements

ASI Eksklusif bagi Ibu Bekerja

Tulisan ini, masih sekitar memberikan makanan surga buat bayi kita 🙂 Setelah ASI keluar dan lancar, daftar pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana memberikan ASI ekslusif jika saya seorang ibu yang bekerja di luar rumah? Apakah anak saya mau minum susu melalui botol? bagaimana kalau nanti anak saya tidak suka dengan susu formula? Bagaimana lepas dari memberikan ASI kepada bayi? Nanti kalau ibu sedang sakit bagaimana?

Tidak ada kendala bagi ibu bekerja di luar rumah untuk memberikan ASI ekslusif kepada anaknya. Yang perlu diingat adalah ASI adalah makanan surga, yang TERBAIK untuk bayi kita. Tidak ada satu pun merk susu formula yang mampu menandingi ASI. Oleh karena itu, ketika kita mau memberikan yang terbaik untuk bayi kita, maka kesulitan dan kerepotan apapun tidak akan menghalangi niat kita. Benar begitu kan? 🙂

Keinginan ini pula lah yang juga mendorong saya untuk tetap memberikan ASI ekslusif buat Charis, sampai dia usia 13 bulan. Begitu pula ketika lahir anak kedua saya, putri cantik yang  kami beri nama Cherry. Saat saya melengkapi tulisan ini, putri kedua saya masih berusia 10 bulan dan tetap minum ASI. Memang ada banyak harga  yang harus dibayar (baca: pengorbanan) untuk hal ini. Akan tetapi, saya yakin kalau saya pasti bisa memberi yang terbaik untuk anak saya. Ini adalah dasar kekuatan untuk tidak lelah dan malas memompa/memerah ASI.

Ada 5 tips untuk ibu atau calon ibu yang punya passion yang sama dengan saya: memberikan yang terbaik (baca: makanan surga) untuk bayi kita, memberikan HAK bagi bayi kita.

1. Membiasakan penggunaan botol susu

ImageBotol susu, apapun merk dan bentuk puting botol pastilah berbeda dengan puting ibu. Oleh karena itu perlu dilatih agar terbiasa. Saya mulai membiasakan Charis minum ASI memalui botol sejak dia usia 2,5 bulan. Awal-awal mencoba, terjadi penolakan. Charis tidak mau minum ASI dari botol susu. Tapi saya tidak menyerah, saya terus mencoba memberikan DAN mengajak berkomunikasi (sekalipun bayi Charis terlihat tidak memahami, tapi yakinlah bayi kita tau apa yang kita sampaikan) “Charis, gak lama lagi kalau siang mama kerja, sebentar, hanya 6 jam, nanti Charis minum susunya dari botol ya.. Ayo pinter, belajar minum dari botol ya..”. Empat hari berturut-turut saya berusaha dan tidak membuahkan hasil.  Hari kelima, akhirnya Charis mau minum ASI dari botol susu, sekalipun menangis. Kebiasaan ini saya latih terus setiap siang. Sampai akhirnya menjadi habbit.

Belajar dari pengalaman Charis, anak kedua saya, Cherry, mulai saya latih minum ASI menggunakan botol sejak usia 1 bulan. Saya tidak mengalami kendala ketika memberikan ASI melalui botol, seperti yang saya alami dengan Charis. Cherry tetap dengan antusias minum ASI sekalipun dari botol  🙂 Hehehehe. Apakah ini karena usia yang lebih dini ataukah lebih kepada karena karakter setiap anak memang berbeda…? hehehe

2. Belajar “memompa/memerah” ASI

Secara teknis, mintalah petunjuk dokter atau bidan (bukan suster!) atau saya (boleh melalui email). Ada banyak teman yang bertanya kepada saya mengenai “memerah” ASI. Bagaimana caranya? Dengan alat apa? Secara pribadi, saya sudah mencoba dengan alat manual atau pun elektik, beberapa merk, yang murah dan yang mahal. Akan tetapi, dengan jujur saya ingin ceritakan, TIDAK ADA alat yang sebagus dan sebaik dari TUHAN, yaitu menggunakan TANGAN kita sendiri. Praktis dan tidak ribet. Hehehehe.

Seiring dengan berjalannya waktu, kita akan tau cara mana yang paling pas buat kita. Memang tidak mudah, apalagi kalau tidak terbiasa. Sakit, ya pastinya terutama di awal, perjuangan yang besar untuk memberikan yang terbaik. ASI yang dihasilkan dari proses ini pun tidak langsung banyak, bertahap, 5 ml untuk pertama kali mencoba itu sudah bagus. Semakin sering kita belajar, pasti semakin banyak ASI yang keluar. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar tentang ASI sebagai makanan surga ini, dengan caraNYA yang ajaib, SUPPLY ASI ini sesuai dengan DEMAND. Artinya, semakin bertambahnya usia bayi, semakin banyak kebutuhannya akan ASI, maka semakin banyak produksi ASI kita.

Setelah proses di atas, biasanya saya menyimpan ASI dalam lemari es. Dalam keadaan suhu kulkas bawah, ASI akan bertahan 48 jam. Jika disimpan dalam freezer, ASI akan bertahan selama 2 bulan! Wow! Hasil ini saya tempatkan di plastik tebal dan dituliskan tanggal, jam, dan cc dari ASI. Hal ini akan memudahkan saya ketika saya mengeluarkan ASI untuk bayi saya.  Kemudian, plastik berisi ASI ini saya letakkan di tempat khusus dalam freezer (ada kotak dengan merk tertentu khusus untuk menyimpan dalam freezer), jadi sekalipun freezer saya ada beberapa bahan makanan tetapi bau tidak bercampur.  Biasanya freezer mempunyai 2 rak. Nah, saran saya, tempat untuk penyimpanan ASI dipisahkan dari bahan makanan seperti daging, dan sebagainya. Boleh dicampurkan dengan es krim :p

3. Makan yang buanyaaak, khususnya sayur dengan aneka warna dan minum air putih sebanyak 3 liter (minimal) agar produksi ASI melimpah.

Ini adalah syarat mutlak bagi seorang ibu yang ingin memberikan ASI untuk bayinya. Banyak makan dan banyak minum air putih. Biasanya ibu menyusui akan mudah merasa lapar, hehehe. Hal ini wajar. Makanlah yang sehat dan begizi, dengan porsi yang dibutuhkan (jangan berlebihan juga nanti mamanya gemuk lagi, haha).

Untuk minum air putih, wajib hukumnya. Mengapa demikian? Karena ASI adalah cairan yang tentunya akan berlimpah jika cairan yang dikonsumsi ibu cukup, minimal adalah 3 liter sehari. Ya tentunya tidak sekaligus minum 3 liter :p segelas demi segelas (ada lo yang menanyakan hal ini kepada saya, hahaha).

4. Konsumsi vitamin

Konsumsi yang wajib adalah kalsium, apalagi jika mempunyai gigi sensitif seperti saya. Untuk vitamin lainnya, jika perlu saja. Hal ini dikarekakan sebenarnya konsumsi makanan sehat sudah cukup untuk kebutuhan gizi ibu menyusui.

5. Susu formula lanjutan, jika terpaksa. Tetapi pemberiannya jangan banyak, seperlunya saja. Jika supplai ASI di lemari es tidak mencukupi.

Anak pertama saya benar-benar ASI eksklusif hingga mereka berusia 8 bulan, sedangkan anak kedua saya 9 bulan. Setelah usia ini mereka sedikit minum susu botol (utamanya ketika siang hari yaitu ketika saya bekerja di luar rumah) tapi ketika saya berada di rumah, mereka tetap minum ASI tetapi tidak melalui botol.

Setelah usia 6 bulan, produksi ASI dengan sendirinya akan menurun. Hal ini dikarenakan bayi sudah mendapatkan makanan tambahan, sehingga konsumsi ASI sedikit berkurang. Nah, ini juga lah yang berpengaruh terhadap proses pemerahan ASI (semakin berkurang). Ketika stok ASI sudah habis, maka bayi tetap diberikan ASI secara langsung dan susu formula di botol jika ibu bekerja atau bepergian. Anak akan dengan mudah menyesuaikan ke susu formula, yang terpenting adalah penyesuaian ke botol susunya.

ImageYang perlu diingat dari manajemen pemberian ASI adalah: tetap berikan bayi anda ASI dari sumbernya. Jangan hanya ASI yang ditaruh di botol. Alasannya adalah agar ASI tetap dirangsang untuk berproduksi.Apakah anda pernah mendengar istilah ASI habis? Nah, salah satu penyebabnya adalah jika bayi hanya minum ASI dari botol saja tanpa dari sumbernya.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut mengenai hal ini, dengan senang hati saya akan membaginya kepada para ibu yang ingin memberikan makanan surga bagi bayinya 🙂

Self Improvement Management (SIM)

Perkuliahan ini berpijak pada psikologi positif sehingga menekankan pada nilai positif dan kekuatan dalam diri setiap individu. Setiap individu adalah unik dan tak tergantikan. Hal ini berarti setiap orang pasti punya kekuatan dalam dirinya. Kadang kala kita tidak menyadari kekuatan tersebut dan justru menyia-nyiakan apa yang kita punya.

Tujuan perkuliahan ini untuk membantu mahasiswa mengetahui dan mengembangkan secara maksimal apa yang menjadi kekuatan dalam dirinya. Harapannya mahasiswa mampu mengelola kekuatannya dan menjadi yang terbaik, membawa perubahan yang positif bagi dirinya dan lingkungan di sekitarnya, keluarga dan organisasi apapun di mana dia berada.

ISINYA….
→ Psikologi positif

→ Managemen pengembangan diri

→ Bagaimana kita bisa mengubah dan menciptakan kebiasaan baru

→ Managemen perubahan

→ Bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap perubahan

→ Bagaimana seseorang dapat meraih hasil yang diinginkan

→ Belajar dari keberhasilan orang lain

→Bagaimana dari baik menjadi hebat

→ Bagaimana menjadi bagian dari tim

→ Bagaimana menjadi pemimpin dalam tim

Dialog Memperkuat Komitmen –lebih dari sekedar kontrak kerja di atas kertas bermaterai!

Berawal dari menerima sebuah proyek kerja sama untuk membuat program, dengan salah satu rekan kerja di Malang, satu tahun lalu, berakibat pada terbentuknya satu usaha yang bergerak bidang jasa. Apakah layak disebut sebagai perusahaan? Ya, saya anggap demikian karena terdapat satu orang pemimpin yang menggaji 3 orang “karyawan” tetap (bahkan, bulan ini ada penambahan satu orang “karyawan” lagi) setiap bulan untuk mencapai target dan keuntungan tertentu.

Yang menjadi “karyawan” dalam perusahaan ini tidak lain, tidak bukan, adalah mantan mahasiswa yang baru saja lulus dari dua universitas swasta ternama di Surabaya, dengan prestasi dan punya pengalaman yang memadai. Tidak melalui iklan di koran, melainkan lebih kepada referensi (karena saya dan pemimpin perusahaan ini adalah dosen di kedua universitas tersebut) dan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Mereka yang fresh graduate ini masih muda biasanya memiliki idealisme yang tinggi, mencari pengalaman, tidak suka dibatasi waktu dan ingin gaji besar (tentu saja, haha). Apalagi mereka memiliki orang tua yang mapan yang mendorong mereka untuk berpenghasilan besar pula.

Sumber: http://sbelen.wordpress.com/2008/12/12/menetas-dari-telur/ Kebetulan, perusahaan baru ini bergerak dibidang jasa, yaitu sebuah program IT untuk perusaan, sehingga cukup mewakili keinginan mereka untuk bekerja tanpa batas waktu. Artinya mereka bisa bebas mengerjakan di mana saja, tidak harus datang ke kantor. Untuk persoalan gaji, oleh karena memang ini adalah perusahaan kecil maka gaji tidak besar, tetapi di atas rata-rata lah ya.

Yang jadi persoalan (atau justru berkat!), adalah adanya proyek baru yang datang ke pemimpin perusahaan ini. Secara otomatis beban kerja untuk para “karyawan” ini akan bertambah. Akan tetapi perusahaan dengan status baru ini tidak dapat menaikkan income mereka tiap bulan dengan angka yang besar. Dari sisi perusahaan, karena ini bergerak di bidang jasa, maka perusahaan baru mendapat gaji ketika proyek tersebut selesai dikerjakan. Artinya, sang pemilik perusahaan harus membayar untuk semua keperluan terlebih dahulu, karena kontrak kerja dengan suatu perusahaan biasanya hanya dibayarkan 10%-20% dari nilai kontrak. Oleh karena itu, kami bersepakat untuk menaikkan gaji sebesar 20% saja, tetapi setelah proyek selesai, pemilik akan membagikan bonus.

Bagaimana mengkomunikasikan hal ini kepada karyawan? Apakah mereka tetap mau terikat kepada perusahaan? Ini yang menjadi pertanyaan sang pemimpin perusahaan. Saya bersepakat dengan pemimpin perusahaan untuk mengkomunikasikan kepada mereka sebelum memulai proyek.

Siang itu, selesai meeting di kantor tersebut, tanpa tekanan, saya memulai percakapan. “Perkembangan proyek yang ini sangat bagus, sekalipun belum selesai. Semangat-semangat! Hm.. Bentar lagi ada proyek baru lo, kontrak kerjanya hanya 4 bulan kalau gak salah… Iya Ko?”, saya menoleh ke pemilik perusahaan, memberikan kode untuk memulai dialog. Setelah memberikan perbincangan awal untuk dialog, pemimpin perusahaan pun melanjutkan perbincangan.

Dengan ditemani makan siang, suasana di ruangan itu menjadi cair dan tanpa tekanan. “Proyek apa, Pak?” kata salah satu diantara mereka.
Ketika pemimpin perusahaan menyampaikan mengenai proyek tersebut, wajah mereka agak tegang. Melihat gerak tubuh mereka yang menjadi serius, saya pun berinisitif untuk mengambil alih dialognya. “Begini lo, maksudnya, kita akan kerjakan proyek tersebut bersama-sama. Kami memang tidak bisa memberikan lebih banyak setiap bulan, hanya naik sedikit. Tapi, jika proyek tersebut sudah selesai, apa yang didapatkan dari perusahaan itu akan kami bagikan. Jadi sistemnya lebih seperti bonus di akhir proyek.” Salah satu diantaranya terlihat bersemangat. Tetapi dua orang tidak terlihat begitu bersemangat. Lalu saya mencoba untuk menjelaskan dari sisi perusahaan, tanpa tekanan, tanpa ketegangan tetapi dengan senyum. Tindakan ini berdampak luar biasa!

Setelah mendengarkan dari sisi perusahaan, kami melihat bahasa tubuh dan raut wajah merekapun berubah menjadi santai kembali. Di akhir penjelasan, saya ingin mendengar apa yang ada dalam pikiran mereka. “Bagaimana menurut pendapat kalian?” Satu per satu dari mereka menjelaskan apa yang ada dalam pikiran mereka. Bahkan mereka berani mengutarakan keberatan mereka! Bukan karena gaji yang mereka dapatkan tetapi lebih kepada ketakutan mereka, menambah beban ini, mengingat proyek yang satunya, yang sedang dikerjakan juga baru selesai 30%.

Mendengarkan apa yang menjadi keberatan mereka, pemilik perusahaan pun tanggap dan segera menjanjikan menambah satu orang lagi di akhir bulan. Merekapun antusias dengan proyek baru dan tetap mengerjakan proyek yang sedang berlangsung! Wajah mereka sangat berseri, bahkan saling bertanya diantara mereka “wah, kalo nambah 1 orang lagi aku ngerjakan yang mana ya?” VIVA DIALOG!

Dialog memberi peluang untuk SALING MENDENGARKAN dan MEMAHAMI, berada pada posisi yang SETARA, memberikan SEMANGAT dan PERHATIAN! Dialog semacam ini lebih powerful di tempat kerja daripada hanya sekedar kontrak kerja dengan dibubuhi tanda tangan dan materai.

Sumber Gambar:
(1) Telur: http://sbelen.wordpress.com/2008/12/12/menetas-dari-telur/
(2) Awan dialog: http://www.shutterstock.com/pic-31410409/stock-vector-dialog-clouds-vector-illustration.html
(3) Kerjasama tim: https://www.123rf.com/photo_7695871_work-together.html

Pedoman dan Rekomendasi dalam Penyusunan Workshop dengan Appreciative Inquiry (AI)

Prinsip penting ketika mendesain sebuah workshop dengan AI adalah perhatikan topik yang dipilih dan bahasa yang digunakan! Hal ini dikarenakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika workshop adalah kunci suksesnya –berjalan atau tidak berjalannya– sebuah workshop. Sebuah prinsip psikologi sederhana perlu digunakan di sini: jika kita ingin semua orang bertindak positif maka kita sebagai fasilitator harus berupaya menularkan sesuatu yang positif. Dengan cara apa? Yaitu melalui pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan juga peran kita sebagai fasilitator haruslah positif.
Salah satu alternatif workshop yang berupaya berlandaskan hal yang positif adalah workshop yang disusun dengan bersandar kepada Appreciative Inquiry (AI). Metode yang dikembangkan oleh Cooperrider (1990) mengembangkan core positif, yaitu melihat dari sisi yang berbeda. Ai menawarkan untuk berfokus kepada kekuatan untuk meminimalkan kelemahan/ sesuatu yang negatif/problem yang ada. AI mempunyai siklus 4D, yaitu Discovery, Dream, Design, dan Destiny.
Berikut ini adalah gambar yang bisa membantu kita memahami mengenai AI.

Sumber: http://www.solutionsbymikki.com/images/ai_graphic.gif

Prinsip Penyusunan Workshop
Pertanyaan-pertanyaan yang disusun dalam AI merupakan pertanyaan-pertanyaan yang positif. Hal ini dikarenakan ketika kita merasa positif maka dimungkinkan lebih kreatif, playful, terbuka terhadap kemungkinan, dan berbaur dengan yang lain.
Questions are fateful. Apa yang ditanyakan itulah jawabannya. Artinya, jika kita menanyakan sesuatu yang negatif (persoalan) maka jawabannya juga negatif (persoalan). Haruslah diingat bahwa pertama kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri dan organisasi (proses Discovery) haruslah berdasarkan core positif. Mengapa demikian? ketika kita memulai sesuatu yang positif maka peluang sukses tahap berikutnya juga positif akan lebih besar. Interview pada Discovery akan dilanjutkan kepada Dream, yaitu melihat yang diharapkan pada masa depan.
Pertanyaan pertama yang ingin ditanyakan adalah hal positif apa yang bekerja di masa lalu, apa titik tertinggi pencapaianmu, hal apa yang membanggakan, hal apa yang terbaik dalam hidupmu. Tentunya pertanyaan ini sangat berbeda dengan “apa masalahmu?” “apa masalah organisasimu?” Fokus pertanyaan yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang berbeda pula.

Apa yang Diharapkan Dalam Workshop??
Isi keseluruhan dari suatu workshop adalah interaktif atau diskusi aktif dalam suatu kelompok. Fasilitator berperan untuk memimpin semua partisipan yang ada melalui suatu pengantar pada setiap sessi workshop. Secara berangsur-angsur, partisipan lah yang memimpin jalannya workshop, dengan berbagi topik, ide, cerita, perasaan, perspektif, dan sebagainya. Penanggung jawab utama tetaplah seorang fasilitator. Maksudnya di sini fasilitator memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk partisipan menuangkan konteks dan solusi mereka sendiri tetapi tetap menjaga untuk tidak keluar dari topik yang dibicarakan.
Oleh karena harapan dari suatu workshop adalah diskusi aktif maka seorang fasilitator harus memulai workshop dengan sebuah pemikiran bahwa setiap partisipan punya kesempatan yang sama besar untuk menunjukkan pemahaman mereka mengenai suatu topik (pertanyaan yang diajukan oleh fasilitator). Fasilitator harus punya keyakinan bahwa semua partisipan merupakan orang-orang mampu memberikan sumbangsih/kontribusi terhadap topik yang akan dibahas.
Fasilitator juga harus mempertimbangkan waktu yang dimiliki dalam satu sessi workshop. Kedisiplinan diperlukan juga di sini. Hal ini juga membantu untuk mengajarkan kepada partisipan untuk melihat pendapat dan menghargai orang lain. Mereka semua punya hak yang sama untuk berkontribusi. Selain itu, fasilitator perlu ingat bahwa fokus pertanyaan yang diajukan lebih kepada apa yang telah dilakukan saat ini untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Hal ini memungkinkan kekuatan yang ada saat ini dapat menjadi dasar untuk membayangkan masa depan yang diharapkan.


Sumber: http://photoserver.ws/images/NOzl4d51b4ea98a49.jpg

Tema Workshop: Topik yang Disepakati
Yang perlu diingat dalam membuat tema untuk workshop adalah gunakanlah topik dengan bahasa mereka, bukan dengan bahasa fasilitator.
Sebuah kunci untuk mengubah budaya organisasi menjadi berdasarkan kekuatan adalah dengan reframing atau membuat kerangka ulang persoalan yang ada menjadi kesempatan. Kebanyakan semua workshop disusun dan diberi tema sesuai dengan persoalan yang ingin dipecahkan dalam suatu organisasi. Cara pandang ini yang harus diubah. Dengan menggunakan AI, kalimat negatif yang mencerminkan suatu persoalan diubah menjadi yang positif yaitu apa yang ingin kita ciptakan –ya, solusi itu sendiri. Misalkan, Managemen Waktu (Traditional Tittle) diubah menjadi Penghargaan terhadap waktu (Affirmative Topic), Low Morale (Traditional Tittle) diubah menjadi Stories of Passionate Enthusism (Affirmative Topic), dan sebagainya.
Words create World. Inilah pedoman AI. Dalam merencanakan suatu workshop jika ingin menciptakan organisasi yang positif maka juga harus dimulai dengan sesuatu yang positif.

Tujuan dari Workshop
Tujuan utama dari semua workshop adalah untuk bekerjasama mencari solusi, melalui: proses kolaboratif, penghargaan terhadap berbagai sudut pandang mengenai suatu isu, belajar tentang kekuatan, menemukan nilai-nilai yang disepakati bersama, semua hal yang mungkin dikontribusikan dan memberikan motivasi dari partisipan kepada partisipan.
Perbedaan mendasar antara workshop dengan metode AI dan workshop pada umumnya adalah pendekatan topik/tema yang dipilih berdasarkan kepada perspektif yang melihat kepada kekuatan yang dimiliki dan sesuatu yang dihargai yang mana akan lebih mudah menggerakkan kita untuk semakin dekat dengan tujuan yang ingin kita capai.

Sasaran Workshop
Workshop menggunakan AI bisa dipakai untuk level individu (mikro) dan level organisasi (makro). Workshop ini dapat membantu organisasi untuk menjadi lebih menyadari kekuatan positifnya dan bekerja berdasarkan kekuatan tersebut.

Disarikan dari buku:
Stratton, R. dan Barkessel. (2010). Appreciative Inquiry for Collaborative Solutions. San Francisco: Pfeiffer

The World Café

In the new economy conversations are the most important form of work.
—Alan Webber, Harvard Business Review

Salah satu kisah sukses dari penggunaan The World Café adalah penurunan tingkat kecelakaan kerja lebih dari 33% dari 50.000 pekerja di Hewlett Packard dengan cara mengikat (by engaging) orang-orang pada semua level yang dihubungkan dengan percakapan tentang pertanyaan-pertanyaan yang menjadi persoalan diantara mereka mengenai safety.

The World Café…….

Ketika saya membaca bab the World Café dalam buku The Change Handbook, saya bayangkan suatu rapat yang benar-benar hidup dan tidak membosankan karena semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya dan belajar dari apa yang diungkapkan oleh orang lain dalam rapat yang sama. Benar-benar menyenangkan!! Percakapan yang telah dirancang (integrated design principles) yang menunjukkan pola hidup jaringan (living network pattern) yang melaluinya kita bersama-sama mengubah masa depan kita bersama

The World Café merupakan metode sederhana yang bisa mendapatkan kecerdasan kolektif dari suatu kelompok dan meningkatkan kapasitas dari setiap anggota kelompok untuk melakukan tindakan efektif di dalam mengejar tujuan bersama. Hal ini bisa terjadi karena partisipan mengalami percakapan di meja mereka sebagai pembuka dan kemudian dihubungkan dengan semua meja yang ada di ruangan.

The World Café berguna ketika…….

Metode ini akan berguna ketika kita ingin mengakses kemampuan intelegen dan pemikiran terbaik dari setiap orang dalam kelompok.

Cara kerja The World Café……..
Empat partisipan duduk mengelilingi meja café untuk mendiskusikan hal-hal penting yang berhubungan dengan hidup, pekerjaan ataupun komunitas mereka.Para partisipan yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka harus menulis ide-ide kunci mereka.

Setelah 20-30 menit, mereka berganti teman diskusi. Hanya ada satu orang yang tetap berada di meja yang sama. Biasanya proses seperti ini diulang sampai tiga kali. Biasanya proses akan selesai setelah 2 jam.

Sebelum memulai…….

Pada prinsipnya HARUS SUDAH dirancang sebelumnya: membantu semua partisipan pada semua tingkatan untuk mengembangkan kapasitas kolektif mereka.

a. Menentukan Konteks (Setting the Context)
Konteks perlu dipikirkan dengan matang. Ajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui konteks dari the World Café seperti: Apa tujuan mengadakan the World Café? Apakah hasil yang diharapkan? Siapa partisipan yang memiliki pengetahuan, kepakaran dan pengalaman?

b. Menciptakan suasana yang mendukung (Creating Hospitable Space)
Kemasan, persiapan segala sesuatu, untuk hari di mana the World Café ini berlangsung harus sangat baik, bahkan ini bisa dimulai dari undangan untuk calon partisipan. Undangan yang bagus menunjukkan bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa.

c. Menentukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti (Exploring Questions That Matter)
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan haruslah yang bisa membuat para partisipan ikut berpartipasi dengan efektif. Pertanyaan di bawah ini bisa digunakan untuk membantu menyusun pertanyaan yang akan diajukan:

• Apakah pertanyaan ini akan bisa memberikan terobosan yang kita cari?
• Apakah pertanyaan ini relevan dengan kondisi nyata partisipan?
• Apakah pertanyaan ini benar-benar kita tidak ketahui jawabannya?
• Apakah yang sebenarnya kita inginkan dari pertanyaan ini?
• Asumsi apa saja yang kita ambil ketika menyusun pertanyaan ini?
• Apakah pertanyaan ini memimpin kepada harapan baru ataukah berfokus pada masalah yang ada?

Aturan Mainnya……
Harus mempunyai dan mempersiapkan dengan matang, yaitu:
a. Café Sponsor/Convenor: Ini adalah orang yang memiliki otoritas di dalam organisasi atau komunitas yang memulai dan mendukung proses The World Café.
b. Design Team: mempunyai tugas untuk Setting the context, Creating Hospitable Space dan Exploring Questions that Matter.
c. Café Host(s):Berfungsi sebagai “tuan rumah” yang memimpin semua proses The orld Café.
d. Graphics Professional: berfungsi untuk memetakan atau memvisualkan pemikiran kolektif dari kelompok.
e. Café Partisipan: Partisipan memiliki etiket untuk saling mendukung ketika berbicara atau mendengarkan.

Kunci Sukses the World Café…….

1. Set the Context: Perjelas tujuan dan parameter yang akan didapatkan dari dialog yang ada.
2. Create Hospitable Space: Memastikan adanya lingkungan yang mendukung dan kemanan secara psikologis yang menumbuhkan rasa nyaman dan salaing menghormati.
3. Explore Questions that Matter: Menentukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa menimbulkan kolaborasi.
4. Encourage Everyone’s Contribution: membuat setiap partisipan berpartispasi penuh dan saling memberi.
5. Cross-Pollinate and Connect Diverse Perspectives: Menggunakan sistem yang meningkatkan perbedaan cara pandang tetapi tetap berfokus pada menjawab pertanyaan-pertanyaan inti.
6. Listen Together for Patterns, Insights, and Deeper Questions: berfokus pada berbagi perhatian yang mengarah pada pemikiran kelompok tanpa menghilangkan kontribusi individu.
7. Harvest and Share Collective Discoveries: Membuat pengetahuan dan pengertian terlihat dan bisa dilakukan.

Agar hasilnya maksimal DAN tetap ada……

(1) Pergeseran cara pandang dari organisasi dan para pemimpinnya yang memahami bahwa percakapan adalah proses utama.
(2) Bagaimana para partisipan datang untuk menghargai sentralitas dari jaringan percakapan untuk perkembangan komunitas/organisasi dan makhluk hidup.

Organisasi yang paling sukses menerapkan the World Café adalah organisasi yang telah menerapkan pertanyaan: “Apakah artinya bagi kita ketika melihat organisasi kita sebagai jaringan hidup dari percakapan yang berfokus pada pertanyaan-pertanyaan penting?

Pertanyaan sebelum memulai the Wolrd Café untuk organisasi kita……

Pertanyaan utama ketika orang mendengar the World Café adalah “apakah ini akan berhasil di organisasi saya?” Jawabannya adalah, “Tergantung!” World Café bukanlah formula ajaib untuk setiap masalah organisasi. World Café menawarkan proses untuk mengintegrasikan berbagai aspek dan partisipan dari suatu organisasi atau komunitas ke dalam suatu sekelompok prinsip untuk mengumpulkan kecerdasan kolektif dan perspektif mengenai pentingnya percakapan untuk mentransformasi bagaimana kita hidup dan bagaimana kita bekerja sama.

Daftar Pustaka:
Brown. J, Homer K, and Isaacs D. The World Café. 2007. Dalam The Change Handbook. Peggy Holman, Tom Devane, and Steven Cady (Eds.). California: Berrett-Koehler Publishers

Tidak Melakukan Apa-apa, Enak Nggak sih??

Kata orang, ngganggur (baca: tidak melakukan pekerjaan apapun) itu asyik, seru. Apakah benar demikian?
Continue reading